Empat.Mutiara.Hitam.


…………..

…………..

“Aku harus pergi” ujarnya,

“Apa itu sudah menjadi keputusanmu?”, tambah Xi Nuel.

“Iya Nuel, ini sudah aku pikirkan masak2, aku dewe yo ora ngerti, pilihan iki berat. Tapi ini juga demi masa depanku”, paparnya tertunduk lesu.

“Bukankah kotmitmenmu kowe masih pingin disine to the ?” Xi Oen menambahkan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar.

Si Dien, menghela nafas panjang… ditatapnya dua sahabatnya itu. Ia tak mampu berkata-kata. Apa yang baru ia putuskan pun itu, seakan-akan dirinya sendiri tak mau mempercayainya. Namun hal itu sudah terlanjur terucap. Menatap dua sahabatnya, yang juga menjadi bagian dari hidupnya selama ini, selama di perantauan, dia berusaha tegar, tapi dia kalut, dia tak mampu.

“Bagaimanapun cepat atau lambat, awake dewe pasti berpisah nyo, tinggal waktuknya saja yang kita tidak tahu.muga-muga pilihan iki sing apik kanggo aku lan kalian nyo.”

Meski sulit, hal itu sudah menjadi keputusan, keputusan yang sangat berat bagi Xi Dien, begitu juga bagi Xi Nuel, dan Xi Oen. Xi Nuel meraih kopi panas yang baru saja dia pesan dari Bu’ Sum, Kopi yang diminumnya terasa sangat hambar, bukan karena Bu’ Sum jual kopi yang kadaluwarsa atau lupa memasukan gula, tapi perasaan, suasana, dan nggone yang biasa membawa terasa sangat feel malam ini terasa sangat berbeda. Malam ini terasa berbeda  bagi mereka bertiga, biasanya mereka nongkrong sambil guyon-guyon bareng tapi raut muram terlukiskan di wajah mereka.

“Xi Lie sudah nggak disini lagi, dan sebentar lagi kamu juga akan pergi, tinggal menunggu beberapa jam lagi. Benar Dien, mungkin ini bukan jalanmu saja, jalan kita semua. Memang selamanya kita tidak akan urip bareng, tapi semoga perpisahan iki dhuduk sing ndadekne awak’e dewe lali karo siji lan liyane. Aku mung ngarep, nangdhi ae nggonmu mbesok, ojo lali karo dulurmu sing nang kene, neng kene iki dulurmu padha threna nang kowe“, terang Xi Oen, tapi pada kenyataanya, Xi Oen berusaha menguatkan dirinya.

“Ya Oen”, jawab Xi Dien, suasana kembali sepi…..

…….

…….

*to be continue


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s