Iklan Luar Ruang, Simbol Modernitas atau Sampah Visual?


Oleh: Filosa Gita Sukmono*

Mengamati perkembangan kota-kota besar di Indonesia memang sangat menarik dan mengasikkan. Dalam sepuluh tahun terakhir telah terbangun berbagai gedung pencakar langit, yang pertumbuhannya begitu cepat, sehingga terkadang kita terkaget-kaget melihat perkembangan suatu kota yang telah lama tidak dikunjungi.

Perkembangan kota-kota besar tersebut biasanya diikuti oleh berbagai iklan luar ruang yang terlihat begitu padat di pinggiran jalan, sekitar traffic light, atas rumah warga, pertokoan kecil dan mall-mall yang berdiri gagah sebagai simbol kapitalisme. Sehingga tak salah jika banyak pengendara motor dan mobil yang kadang asik melihat-lihat iklan luar ruang atau malah terganggu atas kehadiranya. Disitulah kapitalisme memanfaatkan ruang-ruang sepanjang kota yang sering dilewati oleh banyak orang untuk semakin menancapkan cengkramannya lewat media seperti iklan.

Sehingga muncul pertanyaan dalam benak penulis atau sebagian orang lainnya, sebenarnya iklan luar ruang ini sebagai simbol modernitas atau sampah visual? Karena penulis mempunyai pengalaman unik ketika seorang teman yang berasal dari desa datang ke kota, dan dengan polosnya dia berkata “ wah kotamu sekarang maju ya,buktinya sekarang sudah banyak iklan ukuran besar di pinggir jalan dan depan pertokoan”. Bahkan dengan asiknya ketika jalan-jalan matanya tidak pernah lepas dari iklan-iklan yang berhamburan hampir sepanjang jalan.

Contoh di atas semakin menegaskan bahwa banyaknya iklan luar ruang disekitar kita, oleh sebagain masyarakat dianggap sebagai sebuah modernitas. Jadi jika suatu kota tidak ada iklan luar ruang yang memenuhi sepanjang mata memandang maka kota itu tidak modern, tetapi jika sebaliknya maka kota tersebut modern dan maju. Beberapa orang lainnya justru mempertanyakan kehadiran iklan luar ruang, sebagian orang kota yang kerjanya tiap hari bolak-balik di dalam kota justru merasa jenuh dengan berbagai iklan luar ruang.

Hal ini terbukti dengan pengakuan sebagian masyarakat bahwa sesaknya kota dengan iklan luar ruang membuat pandangan mata mereka jenuh dan bosan melihat berbagai iklan yang beredar di pinggir jalan. Belum lagi dengan iklan luar ruang yang ilegal dimana banyak terdapat iklan obat kuat di sekitart traffic light yang secara verbal cukup menggangu dan tidak pantas dibaca anak usia dini, Sehingga terlihat bahwa iklan luar ruang telah berubah dari media penyampai pesan menjadi sampah visual yang menggangu.

Terusiknya Ruang Publik

Iklan luar ruang secara kebetulan atau tidak, telah mengusik ruang-ruang publik yang ada disekitar kita, seharusnya ruang-ruang tersebut di isi pepohonan yang hijau atau taman-taman tempat berkumpulnya keluarga. Tetapi malah diisi oleh tiang-tiang iklan yang lama kelaman menjadi polusi visual bagi masyarakat luas.

Berbicara seharusnya maka pemerintah sebagai pemegang regulasi sebenarnya wajib memisahkan ruang-ruang yang bebas sampah visual dengan tempat-tempat yang memang seharusnya ditempati oleh iklan luar ruang tersebut. Sehingga cita-cita Jurgen Habermas tentang hadirnya ruang publik yang bebas dari dominasi dan kepentingan kapitalisme benar-benar ada di era modern seperti saat ini.

Permasalahannya ternyata terletak pada bagaimana pemerintah daerah justru mendapatkan keuntungan luar biasa atau pendapatan daerah yang besar dari beberapa titik yang disewakan kepada agen-agen kapitalisme seperti biro iklan. Sehingga sangat sulit bagi pemerintah untuk menolak perkembangan iklan luar ruang di daerah mereka. Bahkan pemerintah daerah seakan hanya diam ketika kota mereka disesaki oleh berbagai iklan luar ruang.

Mungkin sudah saatnya masyarakat dibantu oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat lewat berbagai seminar atau pertemuan bahwa ruang publik mereka telah diusik oleh berbagai sampah visual seperti iklan luar ruang. Atau tokoh-tokoh masyarakat yang peduli terhadap masalah ini mampu bernegoisasi kepada pemerintah daerah setempat agar mengurangi sampah-sampah visual di ruang publik.

Akhirnya penulis mencapai sebuah kesimpulan sementara bahwa berbagai simbol-simbol modernitas sebagai sampah visual telah mengorbankan ruang-ruang lainnya yang seharusnya milik publik. Seakan-akan berbagai simbol modernitas dengan gemerlapnya dalam iklan luar ruang itu telah berhasil membuat masyarakat terbuai, bahwa ruang publik mereka telah direbut oleh kepentingan kapitalisme.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah kita hanya tinggal diam ketika ruang publik kita di kotori oleh berbagai polusi dan sampah visual, ataukah kita melakukan sebuah gerakan untuk mengamankan ruang publik yang menjadi hak kita bersama untuk diperjuangkan?

*Peneliti Media and Cultural Studies, alumni UMM dan Mahasiswa  Pascasarjana UGM Yogyakarta

**Gambar hanya ilustrasi, source: http://www.mediaresearch.org/campaign/04/images/country_billboard.jpg


8 thoughts on “Iklan Luar Ruang, Simbol Modernitas atau Sampah Visual?

  1. menurut saya mah lebih bertendensi sebagai media yang lebih modern saja bagi pengiklan (baca:simbol modernitas). Namun, perlu upaya pihak yang berwenang agar hal itu tidak terlihat seperti sampah visual…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s